|
ANALISIS EKSTENSI MANUSIA DALAM KORAN ANALOG DAN DIGITAL SEBAGAI PROSES PENCAPAIAN DUNIA TANPA KERTAS Oleh : David Tinambunan, 0906561490 ABSTRAKSI Koran merupakan salah satu media cetak yang digemari masyarakat Indonesia. Seiring perkembangan teknologi komunikasi, koran analog di Indonesia kini secara perlahan berubah menjadi koran digital yang merupakan penyempurnaan ekstensi manusia. Sebuah ekstensi terjadi ketika seorang individu atau masyarakat membuat atau menggunakan sesuatu dengan cara yang memperluas jangkauan kemampuan tubuh dan pikiran manusia dengan cara yang inovatif. Pengertian sederhana dari konsep tersebut seperti sebuah mikroskop merupakan perpanjangan dari mata manusia yang memampukan kita untuk melihat benda-benda mikroskopik. Permasalahan yang muncul adalah sistem analog tidak mampu menjadi ekstensi yang selengkapnya dari komunikasi manusia. Perangkat biologis fisik manusia dalam komunikasi adalah keseluruhan pancaindera yang dapat menggabungkan semua jenis informasi secara bersamaan dalam satu transmisi. Manusia tidak dapat berkomunikasi dengan mengirim ataupun menerima informasi dalam bentuk yang terpisah. Pertanyaan mendasar terhadap makalah ini adalah apa perbedaan ekstensi koran analog dengan koran digital serta dampaknya bagi manusia dan apakah koran digital merupakan penyelesaian dari masalah tersebut. Salah satu fenomena yang tampak pada masyarakat Indonesia adalah diutamakannya faktor gengsi dan pencapaian status dalam hal pembelian teknologi tanpa mempertimbangkan nilai guna dari teknologi tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa tipe masyarakat Indonesia yang seperti itu tidak dimanfaatkan dalam hal pencapaian dunia tanpa kertas. Perubahan pencapaian dunia tanpa kertas tidak akan efektif apabila masyarakat tidak mengetahui esensi dari ekstensi kemampuan manusia itu sendiri dalam koran digital. Dengan mengetahui esensi dari ekstensi koran digital, masyarakat dapat secara mandiri dan kritis memilih koran yang dapat merepresentasi kemampuan manusia seutuhnya. Dengan asumsi, teknologi digital yang ada pada koran menjadi dasar bagi perubahan menyeluruh untuk mengembangkan ekstensi yang lebih mendekati komunikasi manusia. Kerangka berpikir yang digunakan adalah teknologi merupakan ekstensi atau perluasan kemampuan manusia dari konsep McLuhan. Hemat kata, apa yang dipikirkan atau apa yang diinginkan manusia bisa diperluas perwujudannya melalui media massa. Bahkan media massa berbuat lebih dari apa yang bisa dilakukan manusia. Setiap perpanjangan dari kemampuan manusia terutama ekstensi teknologi memiliki pengaruh mengamputasi atau memodifikasi beberapa ekstensi lainnya. McLuhan percaya bahwa manusia selalu terpesona dan terobsesi terhadap ekstensi tersebut dan sering memilih untuk mengabaikan atau meminimalkan amputasi. Dalam upaya pengumpulan data-data makalah ini, digunakan metode dokumentasi yaitu mendapatkan data dengan cara melihat, membaca, mempelajari buku-buku referensi dan juga mencari dari internet. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang menekankan pada cara pandang, penilaian ataupun ungkapan emosi dari 30 informan yang diteliti berkenaan dengan masalah diteliti yang dikategorikan sebagai data. Kesimpulannya adalah pencapaian dunia tanpa kertas hanya dapat terjadi apabila adanya ekstensi kemampuan manusia seutuhnya dalam koran digital seperti representasi sistem organ manusia sebagai satu kesatuan yang berkorelasi satu dengan yang lain.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Koran merupakan salah satu media cetak yang digemari masyarakat Indonesia. Besarnya kebutuhan masyarakat akan informasi menimbulkan masalah lingkungan dalam hal produksi kertas yang memicu penebangan hutan secara berkelanjutan dan juga menghasilkan limbah industri. Salah satu langkah bijak yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi realita tersebut adalah pencapaian dunia tanpa kertas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memahami esensi dari ekstensi kemampuan manusia dalam koran digital. Sebenarnya manusia secara mandiri dapat memanfaatkan dan mengolah informasi secara digital. Seiring perkembangan teknologi komunikasi, koran analog di Indonesia kini secara perlahan berubah menjadi koran digital yang merupakan penyempurnaan ekstensi manusia. Sebuah ekstensi terjadi ketika seorang individu atau masyarakat membuat atau menggunakan sesuatu dengan cara yang memperluas jangkauan kemampuan tubuh dan pikiran manusia dengan cara yang inovatif. Pengertian sederhana dari konsep tersebut seperti sebuah mikroskop merupakan perpanjangan dari mata manusia yang memampukan kita untuk melihat benda-benda mikroskopik. Salah satu fenomena yang tampak pada masyarakat Indonesia adalah diutamakannya faktor gengsi dan pencapaian status dalam hal pembelian teknologi komunikasi tanpa mempertimbangkan nilai guna dari teknologi komunikasi tersebut. Penulis melihat kesempatan yang bagus untuk memanfaatkan tipe masyarakat tersebut dalam hal pencapaian dunia tanpa kertas. Masyarakat dapat membaca dan mendapatkan informasi dari teknologi komunikasi yang mereka beli. Jadi, secara perlahan akan terjadi mobilisasi dari koran analog menuju koran digital di era globalisasi sekarang ini. Permasalahan yang muncul adalah sistem analog tidak mampu menjadi ekstensi yang selengkapnya dari komunikasi manusia. Perangkat biologis fisik manusia dalam komunikasi adalah keseluruhan pancaindera yang dapat menggabungkan semua jenis informasi secara bersamaan dalam satu transmisi. Akan tetapi, sistem analog tidak dapat menyalurkan dan menjangkau keseluruhan pancaindera tersebut. Tentunya, manusia tidak dapat berkomunikasi secara efektif apabila terpisahnya proses pengiriman ataupun penerimaan informasi dari pengirim ke penerima pesan. Perumusan Masalah Berdasarkan fenomena-fenomena yang telah di uraikan di atas, untuk itulah penulis merasa tertarik melakukan penelitian tersebut. Terutama untuk melihat bagaimana eksistensi koran analog dan digital pada masa sekarang ini beserta faktor pendorong terjadinya mobilisasi. Adapun judul penelitian ini adalah ”Analisis Ekstensi Manusia Dalam Koran Analog Dan Digital Sebagai Proses Pencapaian Dunia Tanpa Kertas.” Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: (1) Apa perbedaan ekstensi koran analog dengan koran digital? (2) Apakah dengan mengetahui ekstensi kedua koran tersebut, akan terjadi peralihan dari koran analog menuju digital? (3) Apakah koran digital merupakan penyelesaian dari masalah tersebut dan dapat menggantikan koran analog sepenuhnya? (4) Mengapa tipe masyarakat Indonesia yang seperti itu tidak dimanfaatkan dalam hal pencapaian dunia tanpa kertas? Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan mendasar dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui bagaimana pemahaman orang mengenai teori McLuhan “The Extensions of Man”. (2) Untuk mengetahui bagaimana pemahaman orang mengenai ektensi koran, baik dalam koran analog maupun digital. (3) Untuk mengetahui berbagai alternatif cara untuk melakukan mobilisasi dari koran analog menuju koran digital dalam masyarakat. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang menekankan pada cara pandang, penilaian ataupun ungkapan emosi dari 30 informan yang diteliti berkenaan dengan masalah diteliti yang dapat dikategorikan sebagai data. Dalam upaya pengumpulan data-data penelitian ini, digunakan metode dokumentasi yaitu mendapatkan data dengan cara melihat, membaca, mempelajari buku-buku referensi dan juga mencari bahan referensi dari internet. HASIL DAN PEMBAHASAN Kerangka Pemikiran Seluruh teknologi komunikasi hampir sudah menjangkau seluruh pancaindera manusia seperti sentuhan, penciuman, rasa, pendengaran, dan penglihatan. Mulai dari telepon genggam yang difasilitasi video call dan 3.5G hingga laptop yang difasilitasi teknologi tiga dimensi (3D) dan WiMAX. Bahkan teknologi komunikasi dapat membawa seseorang individu melintasi batas ruang dan waktu serta mendapatkan informasi yang tidak didapat sebelumnya (McLuhan, 1965). Maksudnya adalah kita dapat mendapatkan atau bertukar informasi dengan semua orang di berbagai belahan dunia tanpa harus datang ke tempat tersebut dengan menggunakan teknologi komunikasi dalam hitungan detik. Manusia telah menjadikan teknologi media sebagai jendela dunia atau "a window to the world" sehingga manusia dapat mengetahui kejadian-kejadian yang jauh jaraknya tanpa harus hadir langsung di lokasi kejadian. Kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknologi merupakan ekstensi atau perluasan kemampuan manusia dari konsep McLuhan. Misalnya, Anda ingin mendapatkan informasi dunia tentang kejadian di suatu tempat. Oleh karena itu, Anda ingin mengekstensi telinga Anda agar dapat memperoleh informasi tersebut. Seolah-olah telinga Anda berada di tempat yang Anda ingin ketahui keadaannya dan mendengar semua kejadian yang ada. Dapat disimpulkan bahwa radio merupakan ekstensi dari pendengaran manusia karena dengan adanya radio maka kita dipermudah dalam mendapatkan informasi global dimana saja dan kapan saja. Jadi, teknologi komunikasi adalah perpanjangan pancaindera, alat, kemampuan komunikasi manusia. Hemat kata, apa yang dipikirkan atau apa yang diinginkan manusia bisa diperluas perwujudannya melalui media massa. Oleh karena itu teknologi sering disebut sebagai media. Akan tetapi, setiap perpanjangan dari kemampuan manusia terutama ekstensi teknologi memiliki pengaruh mengamputasi atau memodifikasi beberapa ekstensi lainnya. Misalnya, radio yang mengekstensi pendengaran manusia. Dengan adanya media baru yang memungkinkan streaming, media baru dapat dikatakan memodifikasi dan mengamputasi eksistensi radio. Media baru dapat menyediakan layanan podcast yang menyiarkan materi yang sama dengan radio. Ketika masyarakat menyadari hal tersebut, masyarakat dapat melakukan mobilisasi dari teknologi komunikasi lama menuju teknologi komunikasi baru dengan cara tidak membeli radio baru atau tidak memperbaiki radio lama yang rusak. Oleh karena itu, secara tidak langsung media baru dapat dikatakan mengamputasi dan memodifikasi kemampuan radio dengan menghadirkan teknologi radio dalam media baru. Tentu saja ada perbedaan antara teknologi komunikasi lama dengan teknologi komunikasi baru. Teknologi komunikasi lama yang bersifat analog hanya memungkinkan setiap teknologi untuk satu jenis informasi yang merupakan satu media. Jadi, setiap jenis informasi memerlukan teknologi tersendiri yang berbeda dari yang lain. Hal ini berbeda dengan komunikasi manusia yang asli yang mampu mencakup semua bentuk informasi. Pada sisi lain, teknologi komunikasi baru lebih bersifat universal karena memungkinkan konvergensi teknologi komunikasi, informasi, jaringan dan mampu mengolah, menyimpan, memproduksi, menyampaikan segala bentuk informasi melalui satu jenis media yang sama secara global. McLuhan juga percaya bahwa manusia selalu terpesona dan terobsesi terhadap ekstensi tersebut dan sering memilih untuk mengabaikan atau meminimalkan amputasi. Seperti sifat manusia yang tidak pernah puas akan keberadaan satu teknologi, manusia ingin mendapatkan teknologi yang lebih canggih. Manusia tidak memperdulikan amputasi yang dilakukan teknologi yang mereka inginkan. Manusia tidak memperdulikan ekstensi yang hilang dari media yang sebelumnya. Seperti masyarakat zaman sekarang yang mulai beralih dari teknologi komunikasi lama menuju teknologi komunikasi baru. Media Massa Oleh karena berkaitan erat dengan koran analog maupun digital maka sebelum analisis yang lebih dalam, penulis akan menjelaskan mengenai media massa. Media massa adalah media atau saluran digunakan dalam komunikasi massa atau sarana untuk menyalurkan pesan oleh seseorang atau sekelompok kepada sejumlah orang banyak dan terpencar-pencar. Dan termasuk dalam media cetak (surat kabar, majalah, buletin) dan media elektronik (radio, televisi, dan sebagainya). Memiliki ciri tertentu yakni bersifat melembaga, bersifat satu arah, terbuka, meluas, dan serempak menggunakan peralatan teknis. Apabila tidak memenuhi ciri–ciri tertentu tersebut, bukan media massa (Pareno, 2002: 32). Media massa berbuat lebih dari apa yang bisa dilakukan manusia. Menurut penulis, hal tersebut ada benarnya juga. Dengan media massa, keterbatasan manusia untuk menjangkau informasi seluruh dunia dapat diambil alih oleh media massa. Penulis memfokuskan penelitian pada media massa yang berbentuk surat kabar atau koran. Menurut agee, secara kontemporer surat kabar memiliki tiga fungsi utama dan fungsi sekunder. Fungsi utama media adalah (1) to inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara dan dunia), (2) to comment (mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam fokus berita), (3) to provide (menyediakan keperluan informasi bagi pembaca bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media). Sedangkan fungsi sekunder media adalah: (1) untuk kampanye proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu, (2) memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun dan cerita-cerita khusus, (3) melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi, dan memperjuangkan hak. Hipotesis Perubahan pencapaian dunia tanpa kertas tidak akan efektif apabila masyarakat tidak mengetahui esensi dari ekstensi kemampuan manusia itu sendiri dalam koran digital. Dengan mengetahui esensi dari ekstensi koran digital, masyarakat dapat secara mandiri dan kritis memilih koran yang dapat merepresentasi kemampuan manusia seutuhnya. Dengan asumsi, teknologi digital yang ada pada koran menjadi dasar bagi perubahan menyeluruh untuk mengembangkan ekstensi yang lebih mendekati komunikasi manusia. Masyarakat yang tidak mengetahui ekstensi dari koran analog maupun koran digital cenderung memiliki penilaian yang sama akan kedua jenis koran tersebut. Oleh karena itu, penulis membuat hipotesis tersebut karena penulis menyadari kegagalan mobilisasi dari koran analog menuju koran digital akibat keterbatasan pengetahuan dalam pemahaman ekstensi dalam koran analog maupun digital. Hasil Penelitian Dalam mencari 30 informan yang memiliki kapabilitas dan kredibel, penulis agak kesulitan menemukannya. Sebagian besar masyarakat Indonesia gemar membaca koran analog maupun digital. Akan tetapi, tidak semua orang yang mengetahui teori McLuhan “The Extensions of Man”. Menurut penulis, teori tersebut mungkin sudah diperoleh mahasiswa komunikasi pada saat Pengantar Ilmu Komunikasi dan mudah diingat mahasiswa. Akan tetapi, tidak semua mahasiswa yang mengerti arti sesungguhnya teori tersebut karena teori tersebut tidak dijelaskan secara mendalam. Dalam pencarian informan selama dua minggu, akhirnya penulis menemukan informan yang dicari. Dari cara pandang dan ungkapan emosi dari 30 informan yang diteliti, hasil penelitian terhadap ekstensi kemampuan manusia dalam koran analog adalah penglihatan sebanyak 60% dari informan, penglihatan dan peraba sebanyak 16,67% dari informan, dan lain-lain sebanyak 23,3% dari informan. Adapun lain-lain yang dimaksudkan adalah seperti kemampuan penyimpanan informasi yang lebih nyata dan tahan lama, kemampuan pengolahan informasi verbal, serta kemampuan manusia untuk memahami dan menganalisa informasi. Sedangkan, hasil penelitian terhadap ekstensi kemampuan manusia dalam koran digital adalah penglihatan dan pendengaran sebanyak 50% dari informan, penglihatan sebanyak 30% dari informan, dan lain-lain sebanyak 20%. Adapun lain-lain yang dimaksudkan adalah seperti kemampuan manusia untuk bersentuhan dengan manusia lainnya karena berada dalam global village, kemampuan pengolahan informasi informasi verbal maupun non verbal dengan mudah, kemampuan penyimpanan informasi secara digital serta kemampuan manusia untuk memahami dan menganalisa informasi serta keinginan untuk berinteraksi. Dari penelitian tersebut, penulis dapat menyimpulkan mobilisasi tersebut tidak diharapkan karena sebanyak 73,3% dari informan yang tidak setuju akan mobilisasi terhadap koran digital sepenuhnya. Adapun alasan-alasan informan tidak setuju terhadap mobilisasi dari koran analog menuju koran digital adalah karena kedua koran memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena ada pengaruh kebiasaan dan budaya masyarakat Indonesia yang lebih suka pada koran analog, karena tidak semua orang dapat mengakses koran digital seperti kalangan bawah, dan karena berita koran digital tidak mendalam, tidak komprehensif, dan tidak lengkap. Sisanya berpendapat bahwa mobilisasi menuju koran digital dengan mengikuti perkembangan web 2.0 perlu terjadi karena koran digital mendukung perpindahan informasi yang lebih banyak dan tingkat kesalahan yang lebih rendah dari koran analog. Meskipun dengan tipe masyarakat Indonesia yang seperti itu, dapat disimpulkan bahwa mobilisasi dari koran analog menuju digital akan sulit dilakukan karena keterbatasan pengetahuan dalam pemahaman ekstensi dalam koran analog maupun digital. Analisis Secara garis besar, saya setuju dengan pendapat informan. Apabila berbicara mengenai ekstensi manusia dalam koran analog, tentu kebanyakan orang berpikir bahwa ekstensi utama terletak pada penglihatan. Penglihatan yang dimaksud adalah masyarakat Indonesia seolah-olah memiliki indera penglihatan diseluruh dunia. Kita dapat mengetahui kejadian serangan World Trade Center pada 11 September 2001 atau tsunami di India pada tahun 2004. Kita melihat kejadian tersebut dari tulisan-tulisan yang dimuat dalam koran analog tersebut tanpa perlu datang ke tempat kejadian. Disamping itu, penulis juga setuju dengan pendapatan informan tentang kemampuan pengolahan, pemahaman dan penganalisa, dan penyimpanan informasi dari koran analog. Koran analog berusaha mengolah informasi ke dalam bentuk verbal. Berbagai bentuk informasi baik berbentuk verbal dan nonverbal diubah menjadi verbal tulisan. Meskipun dapat kita temukan foto dalam koran analog, tetapi esensi utama dalam koran analog adalah informasi tertulisnya. Proses pemahaman dan penganalisa pembaca tergantung dari proses pengolahan tersebut. Apabila koran analog tidak baik dalam mengolah suatu informasi, tentu pembaca akan kebingungan akan berita tersebut. Apabila koran analog memahami kebutuhan pembaca dengan segmentasi berita yang ada maka pembaca akan cenderung memahami berita tersebut. Selain itu, koran analog memampukan pembaca untuk menyimpan informasi tersebut tidak dalam memori mereka, tetapi dalam bentuk yang lebih nyata dan tahan lama. Ketika berbicara mengenai ekstensi manusia dalam koran digital, tentu kebanyakan orang berpikir bahwa ekstensi utama terletak pada penglihatan dan pendengaran. Sama seperti koran analog, koran digital mengekstensi penglihatan manusia. Disamping itu, koran digital juga mengekstensi pendengaran manusia. Hal tersebut terjadi karena dalam koran digital terdapat layanan streaming video. Oleh karena itu, kita dapat mendengarkan informasi layaknya kita mendengarkan seseorang yang ingin menyampaikan informasi kepada kita. Penulis menambahkan bahwa koran digital juga mengekstensi kemampuan peraba manusia. Hal tersebut terlihat ketika kita mau berganti halaman maka kita cukup dengan menekan dan menggeser pojok koran hingga halaman berganti. Disamping itu, penulis juga setuju dengan pendapat informan tentang kemampuan pengolahan, pemahaman dan penganalisa, dan penyimpanan informasi dari koran digital serta berinteraksi. Koran digital tidak sepenuhnya mengolah informasi ke dalam bentuk verbal, tetapi membiarkan bentuk nonverbal juga. Koran digital memuat berbagai bentuk informasi baik berbentuk verbal dan nonverbal. Proses pemahaman dan penganalisa pembaca semakin dipermudah dan diperlengkapi karena kedua bentuk tersebut. Pengakses tidak hanya membaca, tetapi bisa mendengar dan menonton video. Selain itu, koran digital memampukan pengakses untuk menyimpan informasi tersebut tidak dalam bentuk analog, tetapi dalam bentuk digital. Disamping itu, berbeda dengan koran analog karena dalam koran digital setiap pengakses dapat berinteraksi dengan orang lain. Apabila kita tidak suka terhadap suatu berita maka kita dapat mengkomentari berita tersebut dan ketika orang lain tidak setuju maka dia dapat membantah argumen kita. Dalam kondisi tersebut, manusia dapat bersentuhan atau berhubungan dengan lainnya karena karena berada dalam global village. Penulis menyadari bahwa pemahaman tentang ekstensi manusia dapat dipahami melalui model komunikasi Berlo (SMCRE), yaitu source, message, channel, receiver, dan effect. Dari sumber informasi, kita dapat memahami ekstensi kemampuan pemikiran jurnalis dari analisis informasi dalam koran. Dari pesan, kita dapat memahami ekstensi dari kelima indera manusia. Hal tersebut dikarenakan berita yang berupa pesan tersebut seolah-olah membuat kita dapat melihat kejadian peperangan sesungguhnya dalam berita (penglihatan), mendengar gemuruhnya letusan senjata api (pendengaran), tersentak karena ketegangan yang tercipta akibat perang (peraba), mencium tetesan darah di segala tempat (penciuman), dan merasakan kucuran keringat orang yang berperang (perasa). Dari medium, kita dapat memahami kemampuan orang bersentuhan dengan orang lain dan cara menyimpan informasi. Dari penerima informasi, kita dapat memahami kemampuan berinteraksi. Dari efek, kita dapat memahami kemampuan respon seseorang. Koran digital memampukan penerima pesan untuk berinteraksi dengan orang lain karena medium yang digunakan. Oleh karena itu, efek dari koran digital dapat dilihat secara langsung daripada koran analog. Menurut penulis untuk mencapai tujuan dunia tanpa kertas, hal pertama yang harus dilakukan adalah proses perubahan cara pandang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah halaman pada koran analog dengan cara menekan konten. Konten yang dapat dihilangkan adalah seperti opini, korupsi, kriminal, sosok, klasika, olahraga dan lain-lain. Konten yang ada tidak secara mutlak dihilangkan dalam koran. Akan tetapi, apabila konten tersebut dianggap penting dan dibutuhkan masyarakat maka konten tersebut akan tetap dimuat dalam koran analog. Intensitas pemuatan konten tersebut dalam koran dapat disesuaikan dengan mengikuti teori agenda setting. Agenda setting merupakan teori yang menjelaskan bahwa berita-berita yang ada dalam media diatur publik dalam pengangkatan bermacam-macam isu publik yang dianggap penting. Jadi, agenda setting memberikan suatu penekanan terhadap apa yang masyarakat butuhkan dan suka, apa yang penting untuk diperhatikan masyarakat, dan bagaimana menyepakati isu-isu yang berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu, penulis memprediksikan wujud koran analog hanya dalam bentuk satu lembar timbal balik dan hanya menjawab suatu isu dengan menggunakan aspek 5W (what, who, when, where, dan why) saja. Salah satu penyebab koran begitu panjang adalah pertanyaan how yang harus dijelaskan secara rinci. Penulis berpendapat bahwa dengan aspek 5W saja sudah cukup untuk menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa. Misalnya kejadian Tsunami di Aceh, jurnalis dapat memfokuskan pada pertanyaan kejadian apa yang terjadi, siapa saja yang menjadi korban, kapan dan dimana kejadian tersebut terjadi, dan mengapa kejadian tersebut terjadi. Sering kali surat kabar mendramatisir keadaan sehingga pemberitaan menjadi sangat panjang dengan pertanyaan how dan cenderung melelahkan pembaca dalam memahami informasi yang ingin disampaikan jurnalis. Prediksi penulis terhadap koran analog tentu tidak bertentangan dengan karakteristik media massa dan fungsinya. Prediksi tersebut tetap sesuai dengan defenisi media massa yang menyalurkan pesan oleh seseorang atau sekelompok kepada sejumlah orang banyak di berbagai tempat di Indonesia. Masih bersifat melembaga, bersifat satu arah, terbuka, meluas, dan serempak menggunakan peralatan teknis. Akan tetapi dari ketiga fungsi media massa, fungsi to comment dan to provide dapat dikurangi sehingga prediksi satu lembar timbal balik dapat terwujud. Penulis tidak mengatakan fungsi tersebut dihilangkan, tetapi dapat dikurangi karena kedua fungsi tersebut dapat disalurkan dalam koran digital. Tekanan terhadap media diharapkan dapat mendorong masyarakat yang haus akan informasi untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung pencapaian dunia tanpa kertas. Hal yang dapat dilakukan adalah mengekstensi kemampuan masyarakat. Masyarakat berada dalam lingkungan yang begitu banyak arus informasi. Sama halnya dengan informasi yang ada dalam koran analog, masyarakat sebenarnya dapat mengkonsumsi informasi secara mandiri. Teknologi yang ada dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam koran digital, baik memberikan respon ataupun menyampaikan informasi. Tentu saja informasi yang dimuat masyarakat dalam koran digital harus dan akan disaring oleh gatekeeper. Penulis merujuk pada model komunikasi Bruce Westley dan Malcom S. Maclean, Jr. Dalam model tersebut, proses komunikasi dimulai dengan “receiving messages” bukan “sending messages”. Jadi, gatekeeper dapat menangkap dan menerima serangkaian sinyal atau pesan potensial dari masyarakat. Akan tetapi, tidak semua dari sinyal atau pesan dari masyarakat yang dapat diterima oleh gatekeeper. Dalam hal ini, gatekeeper akan menguji kelayakan suatu informasi sehingga akurasi dan kredibilitas koran digital dapat terjaga. Dalam model ini, masyarakat dapat memberikan feedback terhadap suatu informasi. Bentuk feedback yang dimaksud tentu dalam koran digital bukan koran analog. Masyarakat tidak akan bisa berinteraksi dalam koran analog, tetapi masyarakat dapat melakukan hal tersebut dalam koran digital. Masyarakat dapat memanfaatkan situasi tersebut sebagai produsen maupun konsumen informasi. Kredibilitas koran digital tetap terjaga karena adanya penyaringan informasi oleh gatekeeper tersebut. Masyarakat kelas menengah ke bawah dapat menggunakan koran analog, tetapi digitalisasi merupakan solusi bagi masyarakat kelas menengah ke atas yang ingin mendukung perkembangan teknologi komunikasi. Masyarakat dapat berdiskusi atau juga dapat mengakses berita selengkapnya serta berkomentar dalam koran digital. Disamping untuk mengurangi isu pemanasan global, hal tersebut dapat menunjukkan eksistensi Indonesia dalam mendukung perkembangan teknologi komunikasi yang ada. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dalam bab ini penulis menarik kesimpulan dan memberikan saran-saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan koran di Indonesia.
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1) Ekstensi dalam koran analog berupa penglihatan dan ekstensi dalam koran digital berupa penglihatan dan pendengaran. (2) Meskipun mengetahui ekstensi tersebut, kebanyakan orang berargumen bahwa mobilisasi dari koran analog menuju koran digital tidak akan terjadi di Indonesia karena beberapa faktor seperti kebiasaan dan budaya masyarakat serta pertimbangan kelebihan dan kekurangan masing-masing koran. (3) Pencapaian dunia tanpa kertas hanya dapat terjadi apabila adanya ekstensi kemampuan manusia seutuhnya dalam koran digital seperti representasi sistem organ manusia sebagai satu kesatuan yang berkorelasi satu dengan yang lain. Saran Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan diatas, maka penulis memberikan sumbang saran dalam rangka peningkatan kualitas koran: (1) Perlunya analisis mendalam tentang teori McLuhan “The Extensions of Man” dalam Pengantar Ilmu Komunikasi atau mata kuliah lainnya karena tonggak perkembangan teknologi komunikasi berada pada teori tersebut sehingga mahasiswa komunikasi dapat memahami teori tersebut dengan benar. (2) Mobilisasi dari koran analog menuju koran digital diperlukan karena kita harus mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dalam menghadapi tantangan global. (3) Selain masalah efisiensi informasi, tekanan terhadap media tersebut juga perlu dilakukan untuk proses pencapaian dunia tanpa kertas. (4) Perubahan cara pandang masyarakat akan kebiasaan dan budaya yang menghalangi perkembangan koran digital seharusnya dapat diatasi. DAFTAR PUSTAKA Gamble, T. K., & Gamble, M. (2008). Communication Work. New York: McGraw-Hill. McLuhan, M. (1975). Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill. Noegroho, A. (2010). Teknologi Komunikasi. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu. Pareno, H. S. (2005). Media Massa: Antara Realitas dan Mimpi. Surabaya: Papyrus. Ruben, B. D., & Stewart, L. P. (2006). Communication and Human Behavior. United States: Pearson. Straubhaar, J., & LaRose, R. (2004). Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth. No one has commented on this article. |