|
Analisis Penerapan Sistem Jaringan Fiber Optic dalam Pengembangan Infrastruktur Instalasi Telekomunikasi pada Proyek Palapa Ring Indonesia Abstrak Fiber optic atau yang dikenal dengan serat optic merupakan serat kaca yang berfungsi sebagai media transmisi sinyal dengan memanfaatkan energi cahaya dalam proses penghantaran data. Serat ini merupakan saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus yang memiliki diameter kurang lebih 120 mikrometer . Berbeda dengan jenis kabel standar lainnya, fiber optic memiliki karakteristik yang khas yang merupakan penunjang keunggulannya dalam hal transmisi sinyal jika dibandingkan dengan kabel lainnya. Di Indonesia, fiber optic telah dipergunakan oleh banyak perusahaan yang berbasis kegiatan komunikasi dan informasi, hingga kini telah dikembangkan mega proyek yang memanfaatkan penggunaan fiber optic dalam memfasilitasi kegiatan komunikasi dan pertukaran informasi di daerah-daerah yang belum begitu tergali potensi dan maksimalisasi pembangunan serta pemanfaatan instalasi komunikasinya. Adalah Proyek Palapa Ring Indonesia yang merupakan suatu proyek pembangunan jaringan serat optic nasional yang akan menjangkau sebanyak 33 provinsi, 440 kota, 460 kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, dan dengan kabel di daratan sejauh 21.807 kilometer. Yang menjadi perumusan masalah dalam hal ini adalah bagaimana pembangunan proyek Palapa Ring Indonesia sebagai sarana penunjang kegiatan komunikasi dan informasi di daerah-daerah yang dijangkaunya? Apakah manfaat signifikan proyek jaringan transmisi sinyal ini bagi aspek-aspek kegiatan yang mampu difasilitasi olehnya? Adakah kontribusi yang diberikan oleh proyek ini dalam menunjang sarana dan sistem komunikasi pertahanan negara? Proyek Palapa Ring Indonesia merupakan proyek yang memprasaranai kegiatan komunikasi dan pertukaran informasi di daerah-daerah yang belum begitu terbangun serta termanfaatkan secara baik instalasi jaringan komunikasinya. Melalui analisa yang dilakukan, didapati manfaat ang cukup signifikan dari keberadaan proyek Palapa Ring Indonesia di pulau-pulau yang menjadi sasaran utama pembangunannya. Di samping sebagai penunjang kegiatan komunikasi, proyek ini juga memberikan manfaat yang cukup besar dalam aspek lainnya seperti kegiatan pertahanan negara terkait dengan sarana dan sistem komunikasi berbasis fiber optic yang semakin dikembangkan dalam mendukung fungsi pertahanan ini. Sistem komunikasi optikal yang mulai diinstall selama periode 1977-1981 memiliki kesulitan untuk dikembangkan perencanaan terhadapnya dalam hal peningkatan serta penataran sumber pencahayaan yang dimanfaatkan (light sources), penerima (receivers), transmitters, modulator dan elemen yang merupakan pasangannya (couplers) semenjak prakiraan terhadap harga dan kualitas dari komponen di masa mendatang tidak dapat ditentukan secara tepat hingga ditemukan dan dikembangkannya fiber optic (S. Jones, 2009). Melalui instalasi LED (Light Emitting Diode) sebagai sumber pencahayaan pada fiber optic ini, terlebih pada masa sekarang dimana sumber pencahayaan laser dengan biaya yang relatif rendah telah banyak tersedia, maka sistem fiber optic dapat dengan mudah dikembangkan dan ditatar kembali secara cepat dan ekonomis (Elion, 1982, p. 148). Dalam menganalisis pengembangan proyek Palapa Ring Indonesia sebagai sarana yang mewadahi dan menunjang kegiatan komunikasi dan pertukaran informasi, penulis melakukan studi literature dan penjabaran data secara deskriptif yang memaparkan pemanfaatan sistem fiber optic dalam instalasi jaringannya serta deskripsi lebih lanjut berkenaan dengan proses, pengembangan dan aspek-aspek aktivitas yang didukung oleh proyek ini. Selanjutnya, metode analisis yang dipergunakan merupakan analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif tentang pengembangan proyek Palapa Ring Indonesia di daerah-daerah serta analisis terhadap signifikansi manfaat yang diperoleh dari pembangunan proyek ini terkait dengan kegiatan yang berbasis komunikasi dan pertukaran informasi. Studi literatur dari berbagai sumber pun dipergunakan dalam mendukung analisis dan penelitian yang penulis lakukan. Dapat disimpulkan bahwasanya penerapan sistem jaringan fiber optic dalam pengembangn infrastruktur telekomunikasi pada proyek Palapa Ring Indonesia mampu memprasaranai kegiatan pertukaran informasi dan komunikasi di daerah-daerah yang dijangkaunya dan pembangunan proyek ini memberikan manfaat yang cukup signifikan terhadap aspek-aspek aktivitas yang dapat difasilitasi olehnya, termasuk kegiatan pertahanan negara dengan sarana dan sistem komunikasi berbasis fiber optic yang merupakan tulang punggung dari proyek ini.
Pendahuluan: Seputar Fiber Optic Kabel fiber optic merupakan media networking yang dapat digunakan untuk transmisi-transmisi modulasi. Fiber optic (atau serat optic) merupakan serat kaca yang berfungsi sebagai media transmisi sinyal dengan memanfaatkan energi cahaya dalam proses penghantaran data. Serat ini merupakan saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus yang memiliki diameter kurang lebih 120 mikrometer. Jika dibandingkan dengan media yang lain, fiber optic memiliki harga yang lebih mahal dikarenakan kelebihan yang dimilikinya, yang tidak terdapat pada media transmisi sinya berupa kabel konvensional lain seperti kabel copper dan kabel coaxial. Serat ini memiliki ketahanan yang cukup tinggi terhadap interferensi elektromagnetis dan mampu beroperasi dengan kecepatan dan kapasitas data yang tinggi. Kabel fiber optic dapat mentransmisikan puluhan juta bit digital per detik, bahkan dalam muatan gigabits per second yang dioperasikan melalui jaringan-jaringannya. Dalam hal bandwith, fiber optic mampu membawa paket-paket dengan muatan yang besar. Proses transmisi sinyal dapat dilakukan tanpa harus menyertakan penguatan sinyal yang biasanya dilakukan untuk menghindari pelemahan (attenuation) sinyal yang dihantarkan. Pun serat optic ini juga memiliki daya tahan yang kuat terhadap pengaruh elektromagnetik yang berasal dari perangkat-perangkat elektronik yang berada di sekitarnya seperti radio, motor dan kabel-kabel transmisi lain yang ada di dekatnya. Dari segi konstrusi fisiknya, kabel ini memiliki bentuk yang kecil dan ringan, tidak berkarat dan tidak menghasilkan elektrik serta percikan api. Pemeliharaan kabel-kabel fiber optic memerlukan biaya yang relatif murah. Tingkat keamanan yang ditawarkan oleh fiber optic ini juga terbilang cukup tinggi karena upaya penyadapan (dalam jaringan telepon) serta penghambatan sinyal lebih sulit untuk dilakukan. Penghantaran data dan informasi dalam jarak jauh dapat dilakukan tanpa harus melibatkan proses pengulangan sehingga efisiensi dari kegiatan transmisi sinyal dapat dioptimalisasi (Katz, 2007). Tipe-tipe kabel fiber optic: (1) Single mode (kabel single mode); merupakan sebuah serat tunggal dari serat kaca yang berdiameter 8,3 hingga 10 mikron. (1 mikron= 1 per 250 tebal rambut manusia). (2) Multi mode (kabel multi mode); adalah kabel yang terdiri dari beberapa serat kaca, dengan jangkauan diameter 50 hingga 100 mikron. Setiap serat dalam kabel multi mode dapat membawa sinyal independen yang berbeda dari serat-serat lain dalam bundel kabel. (3) Plastic optical fiber (serat optic plastic); merupakan kabel berbasisi plastik yang memiliki kualifikasi setara dengan kabel single mode, namun dengan harga yang relatif lebih murah. Jenis kabel ini merupakan jenis terbaru dari tipikal kabel fiber optic yang ada (Inramus, 2006). Adapun konstruksi kabel fiber optic terdiri dari beberapa bagian yang menyusunnya yakni (1) Core: medium fisik utama yamg mengangkut sinyal-sinyal data optikal dari sumber ke perangkat penerima. Bagian ini berupa helai tunggal dari kaca (glass) atau plastik yang tersusun secara berkelanjutan (dalam mikron). Semakin besar ukuran core, maka semakin besar kapasitas data yang dapat dihantarkan. Diameter core merupakan bagian yang menjadi tolok ukur besarnya semua kabel fiber optic. (2) Cladding: merupakan selubung tipis yang melapisi fiber core. (3) Coating: selubung plastik yang melapisi core dan cladding. Penyangga coating diukur dalam satuan mikron dalam jangkauan 250 sampai dengan 900 mikron. (4) Strengthening fibers: merupakan bagian yang terdiri dari beberapa komponen yang berfungsi sebagai pelindung fiber optic dari benturan keras dan daya tekan yang tak terduga selama proses instalasi berlangsung. (5) cable jacket: lapisan terluar dari keseluruhan badan kabel. Dilihat dari karakteristik titik ke titiknya, sebagai media terpandu fiber optic memiliki rentang frekeunsi 180-370 THz, atenuasi khusu sebesar 0,2- 0,5 dB/km, penundaan khusus 5µs/Km, dan jarang pengulangan (repeater) sejauh 40 km (Freeman, 2005). Jika dilakukan komparasi antara kabel fiber optic dengan beberapa kabel lainnya sebagai media transmisi sinyal, maka dapat perbandingan ini dapat dilakukan dengan menelaah beberapa karaktersitik khusus yang dimiliki oleh masing-masing kabel tersebut. TABEL: Perbandingan Jenis Kabel | Karakteristik | Thinnet | Thicknet | Twisted Pair | Fiber Optic | | Biaya/harga | Lebih mahal dari twisted | Lebih mahal dari thinnet | Paling murah | Paling mahal | | Jangkauan | 185 meter | 500 meter | 100 meter | 2000 meter | | Transmisi | 10 Mbps | 10 Mbps | 1 Gbps | > 1 Gbps | | Fleksibilitas | Cukup fleksibel | Kurang fleksibel | Paling fleksibel | Tidak fleksibel | | Kemudahan instalasi | Mudah | Mudah | Sangat mudah | Sulit | | Resistensi terhadap inferensi | Baik | Baik | Rentan | Tidak terpengaruh | sumber: teknik-informatika.com/media-transmisi-wired/ Pembahasan Pembangunan Proyek Palapa Ring Indonesia Di era digital komunikasi kini, sistem komunikasi diharapkan dapat memfasilitasi efisiensi dalam pengiriman informasi dari sumber (sender) kepada penerima (receiver). Efisiensi itu berupa kecepatan waktu dalam pengiriman pesan. Perkembangan komunikasi yang menuntut adanya efisiensi waktu ini kemudian mendorong para ahli untuk menemukan teknologi-teknologi perantara baru yang dapat memenuhi keinginan-keinginan tersebut. Preferensi pun jatuh pada kabel yang berfungsi sebagai media transmisi sinyal. Pengembangan tembaga menjadi serat optic menjadi salah satu temuan mutakhir yang meningkatkan efisiensi waktu dalam sistem komunikasi. Dengan serat optic, sumber dapat mengirimkan informasi dalam kapasitas yang besar, baik dalam hal besaran data maupun kecepatan penghantarannya. Perubahan yang fenomenal ini merupakan sebuah revolusi dalam komunikasi. Di Indonesia, pemanfaatan serat optic ini telah berkembang dengan maju dan cukup pesat hingga kini telah dibangun sebuah mega proyek yang berbasis sistem komunikasi serat optic (SKSO) yang bernama Proyek Palapa Ring Indonesia. Terinspirasi oleh sejarah bangsa, pemerintah Indonesia menggunakan Palapa Ring sebagai nama proyek pembangunan infrastruktur jaringan tulang punggung bagi telekomunikasi nasional. Cikal bakal dari Palapa Ring adalah Nusantara 21 yang merupakan proyek awal pemerintah pada tahun 1998. Namun, krisis ekonomi yang melanda Indonesia merintangi kelancaran pembangunan proyek tersebut. Pada Januari 2005, di ajang Infrastucture Summit I, wacana pembangunan infrastuktur telekomunikasi kembali terdengar. Setelah proyek Nusantara 21 tenggelam, muncul ide baru yaitu Cincin Serat Optic Nasional (CSO-N) yang diprakarsai oleh PT Tiara Titian Telekomunikasi (TT-Tel). Aplikasi tersebut merupakan jaringan kabel kasar bawah laut yang berbentuk konfigurasi cincin terintegrasi berisi frekuensi pita lebar yang membentang dari Sumatera Utara hingga Papua bagian barat dengan prakiraan panjang mencapai 25.000 kilometer. Setiap cincin akan meneruskan akses frekuensi pita lebar dari satu titik ke titik lainnya di setiap kabupaten. Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optic pita lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1000 Gbps di daerah tersebut. Selanjutnya, pemerintah kemudian menamai gagasan tersebut dengan nama Palapa O2 Ring, yang kemudian dipopulerkan dengan nama proyek Palapa Ring Indonesia. Palapa Ring adalah suatu proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau sebanyak 33 provinsi, 440 kota, 460 kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut (submarine cable) mencapai 35.280 kilometer, dan kabel di daratan (inland cable) adalah sejauh 21.807 kilometer. Berdasarkan rencana pemerintah, Palapa Ring akan dikonstruksikan sebagai jaringan serat optic pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia melalui dasar laut dan daratan. Adapun manfaat Palapa Ring bagi pembangunan Indonesia, khususnya dalam perkembangan sistem komunikasi yakni menyediakan layanan komunikasi dari suara (voice) hingga akses komunikasi data pita lebar (broadband) yang menjangkau seluruh kota/ kabupaten sehingga efisiensi investasi dapat diwujudkan yang nantinya akan mendorong pencapaian tarif telekomunikasi yang semakin murah, percepatan pembangunan dalam sektor komunikasi khususnya di Indonesia Bagian Timur, dan akan mendorong tumbuhnya varian baru penyelenggara jasa telekomunikasi serta produk-produk yang ditawarkannya. Pun instalasi aplikasi berupa distance learning, e-government, telemedicine dan aplikasi lainnya yang dapat didukung oleh sistem komunikasi serat optic ini, juga menjadi target dan harapan besar pemerintah. Ketika pembangunan Palapa Ring telah dirampungkan, maka peningkatan kapasitas e-learning ditargetkan mencapai 300 gigabits, dimana sebelumnya hanya berkapasitas 155 megabits. Proyek Palapa Ring diawali dengan penandatangan hasil konsorsium pembangunan jaringan serat optic di Kawasan Indonesia Timur (KIT) pada Jumat, 5 Juli 2007 oleh tujuh operator telekomunikasi yang terlibat dalam pembangunan proyek ini yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (PT Telkom), PT Excelcomindo Pratama Tbk, PT Indosat Tbk, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Infokom Elektrindo, PT Powertek Utama Internusa dan PT Macca System Infocom. Pembangunan serat optic di Kawasan Indonesia Timur ini adalah sepanjang 10.000 kilometer yang dimulai pada 2008 dengan alokasi dana sebesar Rp. 4 Triliun. Selanjutnya, pembangunan dilakukan pada pertengahan 2008 yang diprediksikan akan selesi pada tahun 2013. Investasi pembangunan proyek ini sepenuhnya berasal dari operator telekomunikasi yang menjadi anggota konsorsium, dan tidak ada dana yang berasal dari sumbangsih pemerintah atau anggaran negara. Dalam proyek Palapa Ring tersebut besaran investasi PT Telkom adalah sebesar 40%, sedangkan anggota konsorsium lainnya masing-masing memiliki porsi investasi 13,3%, kecuali salah satu anggota konsorsium lain yang memiliki prosentase investasi sebesar 6,4%. Dengan penyertaan dana mencapai 40% tersebut, PT Telkom mendapatkan kuota kapasitas terbesar yakni setara 40 Gbps dari total kapasitas Palapa Ring sebesar 85Gbps. Kawasan Indonesia Timur (KIT) dinilai perlu diprioritaskan dibandingkan dengan wilayah barat sebagai sasaran utama pembangunan proyek Palapa Ring dikarenakan area timur Indonesia belum terjangkau serat optic, terlebih transmisi untuk menjangkaunya masih menggunakan satelit yang memiliki kapasitas terbatas. Kondisi kontur KIT yang merupakan kepulauan-kepulauan kecil dan tersebar secara dominan serta tingkat kebutuhan komunikasi yang dinilai masih rendah, menyebabkan pembangunan infrastruktur dengan alokasi anggaran yang begitu besar kurang dipertimbangkan oleh pemerintah dan pihak investor. Namun, hingga ditandanganinya konsorsium oleh tujuh perusahaan telekomunikasi yang menyanggupi pembangunan infrastruktur ini serta dengan didukung oleh tiga perusahaan asing yang turut memberikan kontribusi pendanaan yang besar bagi pembanguan mega proyek ini maka terwujudlah pembangunan backbone serat optic yang merupakan konfigurasi pertama Palapa Ring di Mataram. Untuk tahap pertama, pada Oktober 2009, Telkom yang merupakan penanam modal terbesar dari pihak investor dalam negeri bagi pembangunan proyek ini akan membangun serat optic Mataram-Kupang sepanjang 1.041 kilometer di bawah laut dengan landing point di kota Mataram, Sumbawa Besar, Waingapu, Raba dan Kupang. Selanjutnya, akan dibangun sepanjang 810 km di darat dengan 15 node di kota Mataram, Pringgabaya, Taliwang, Newmont, Ampang, Sumbawa Besar, Raba, Dompu, Bajawa, Bajo, Labuhan, Ende, Maumere, Ruteng, Kupang dan Waingapu (Octaviano, 2010). Proyek Palapa Ring yang berbasis jaringan serat optic pita lebar (bandwith) berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1000 Gbps dipastikan dapat menjawab tuntutan masyarakat akan ketersediaan layanan komunikasi dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Riset menunjukkan tren komunikasi masyarakat kini mengarah kepada komunikasi data, yang terlihat dari peningkatannya yang sangat drastis, sedangkan kebutuhan komunikasi suara (voice) berkembang dengan tidak begitu signifikan. Tren perkembangan tersebut dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Kabel tembaga dengan volume yang besar hanya mampu melayani 300 sambungan telepon maupun internet, sedangkan serat optic dengan volume yang jauh lebih kecil dapat melayani 10 juta sambungan telepon serta internet. Tingkat efisiensi antara kabel tembaga yang digunakan selama ini untuk keperluan telepon dengan serat optic juga terlihat pada gambar berikut. Sebelum ide pembangunan proyek Palapa Ring ini muncul, pemanfaatan serat optic di Indonesia diawali dengan pemakaiannya pada jaringan paket radio sederhana dengan kapasitas kecepatan sebesar 1200 Bps. Selanjutnya penggunaan serat optic dalam sistem komunikasi Indonesia terus mengalami perkembangan hingga timbul gagasan untuk menghubungkan seluruh wilayah Indonesia dengan serat otik yang kemudian dikenal dengan Proyek Palapa Ring. Jika jaringan Palapa Ring telah dirampungkan, maka setiap ibukota kabupaten atau kota di Indonesia yang berjumlah 460 akan saling terhubung melalui jalur fiber optic ini yang merupakan jalur telekomunikasi yang dinilai memiliki tingkat efisiensi paling tinggi saat ini. Jaringan tersebut akan menjadi bagian dari jaringan internasional serat optic bawah laut seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Proyek Palapa Ring: Signifikansi Manfaat di berbagai aspek Proyek Palapa Ring yang berbasis jaringan serat optic ini memiliki manfaat yang sangat penting dalam memberikan ketersediaan layanan komunikasi berupa transmisi sinyal dan data dalam bentuk komunikasi pembicaraan (voice) serta komunikasi data (seperti layanan internet). Backbone yang dibangun yang merupakan rangkaian konfigurasi dari proyek Palapa Ring Indonesia juga diharapkan dapat meningkatkan jumlah titik akses ke jaringan pita lebar sehingga dapat mendukung peluang persaingan dan prospek bisnis di wilayah-wilayah yang dikategorikan sedikit terbelakang di Indonesia. Di samping itu, pembangunan dan pengembangan proyek yang ditargetkan pada Kawasan Indonesia Timur (KIT) pada khususnya serta untuk keseluruhan Indonesia pada umumnya ini diharapkan mampu mendukung komunikasi yang efisien, aman dan berdaya jangkau luas bagi sektor publik maupun pemerintahan, termasuk militer (dalam sistem komunikasi untuk keperluan pertahanan negara), kepolisian, meteorologi, upaya pencegahan krisis serta untuk kebutuhan komunikasi pelanggan yang berasal dari kalangan korporat maupun rumah tangga. Pun proyek ini dapat menekan biaya komunikasi di wilayah-wilayah yang dijangkaunya sekaligus meningkatkan penggunaan akses pita lebar (bandwith) serta memenuhi kebutuhan telekomunikasi kini dan di masa-masa yang akan datang dengan berbasis pada komunikasi yang memanfaatkan jaringan pita lebar. Palapa Ring dalam Sistem Komunikasi Pertahanan Negara Proyek Palapa Ring yang dibangun dengan tujuan utama sebagai jaringan fiber optic yang menyediakan layanan komunikasi, didapati pula memberikan manfaat cukup besar bagi peningkatan sarana dan sistem komunikasi pertahanan negara. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, proyek yang melibatkan pemasangan kabel dasar laut (submarine cable) ini akan terhubung dengan jaringan fiber optic internasional yang berarti Indonesia akan turut tergabung dalam rangkaian jaringan jalur telekomunikasi dan internet bawah laut dunia. Di banyak negara, sistem pertahanan yang dipergunakan telah bersandar pada basis internet (Transmission Control Protocol atau TCP/IP) untuk membangun suatu sarana komunikasi yang efisien, cepat, akurat, handal dan aman dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan kegiatan pertahanan negara. Di Indonesia, telah terdapat berbagai kegiatan pertahanan negara yang memanfaatkan basis internet (TCP/IP) ini, yang juga merupakan bagian dari Proyek Palapa Ring yang telah digelar; (1) Kegiatan komunikasi bidang administrasi dan logistik (Adminlog). Pelaksanaan komunikasi bidang administrasi dan logistik sehari-hari di lingkungan Departemen Pertahanan dan seluruh jajarannya meliputi surat-menyurat dengan berbagai klasifikasi , termasuk telegram dan berbagai informasi lain dalam berbagai strata komando telah memanfaatkan fasilitas berbasis internet, meskipun penggunaannya masih perlu dioptimalisasi. (2) Kegiatan Komunikasi bidang Komando dan pengendalian (Kodal). Pelaksanaan komunikasi bidang Kodal dalam berbagai strata komando (taktik, operasional dan strategi serta grand strategy) memanfaatkan berbagai fasilitas, antara lain radio (HF/ VHF/ UHS/ SHF), satelit dan fasilitas internet serta fasilitas lainnya sesuai dengan kebutuhan. Komunikasi bidang Kodal memerlukan kecepatan, keakuratan, kehandalan dan keamanan karena akan sangat menentukan keberhasilan operasi sekaligus keselamatan personil dan keamanan alutsista. (3) Kegiatan komunikasi bidang intelejen. Penyelenggaraan komunikasi bidang intelejen yang meliputi pengumpulan data, penganalisaan dan penyajian data hasil analisis dalam berbagai strata komando intelejen. (4) Kegiatan komunikasi bidang pengawasan (surveillance). Pelaksanaan kegiatan pengawasan atau pemantauan di lapangan dengan menggunakan berbegai peralatan sensor, sekaligus mengintegrasikan berbagai informas dari sensor-sensor yang terdapat di lapangan. Beberapa tipe sensor antara lain sensor radar; di darat, pantai, pesawat, kapal, laut, satelit/ base space), sensor monitor dan observasi (Monobs), komunikasi, direction finder (DF) komunikasi dan sensor-sensor lain yang terintegrasi dalam suatu sistem yang terpusat dalam pusat komando dan pengendalian. Komunikasi dalam bidang pengawasan/ pemantauan memerlukan kecepatan, keakuratan, kehandalan dan keamanan dikarenakan kegiatan penghantaran data yang dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pemantauan, oleh karena itu pemanfaatan internet sangat membantu pelaksanaan kegiatan pemantauan ini. (5) Kegiatan komunikasi bidang pengintaian (reconnaissance). Kegiatan komunikasi bidang ini sangat memerlukan kecepatan pengiriman data agar data yang disampaikan tiba tepat pada waktu yang memang benar ditargetkan (Octaviano, 2010). Metode Penelitian dan Analisis Metode penelitian dan analisis yang dipergunakan dalam membahas makalah ini terkait dengan pembangunan proyek Palapa Ring Indonesia, signifikansi manfaat yang diberikannya dalam berbagai bidang, termasuk di dalamnya peranan proyek Palapa Ring Indonesia dalam menunjang dan mendukung sistem komunikasi pertahanan negara, adalah studi literature terhadap beberapa website dan situs terkemuka serta sumber-sumber referensi lainnya yang mendukung pembahasan mengenai fiber optic serta penerapan sistem jaringan fiber optic yang diaplikasikan dalam proyek Palapa Ring Indonesia. Kesimpulan Berdasarkan analisis yang penulis lakukan terhadap berbagai sumber referensi terkemuka maka didapati kesimpulan bahwasanya proyek Palapa Ring Indonesia menerapkan sistem jaringan fiber optic dalam pembangunan dan pengembangan infrastuktur telekomunikasi di daerah-daerah yang dijangkaunya, yang dalam hal ini kawasan yang mendapatkan prioritas utama dari signifikansi pembangunan proyek ini adalah Kawasan Indonesia Timur (KIT) dimana sistem komunikasinya belum terfasilitasi dengan baik. Adapun kehadiran proyek ini memberikan manfaat yang cukup signifikan dalam memprasaranai komunikasi pembicaraan (voice) serta pertukaran data dan informasi. Sistem komunikasi dan informasi di ranah publik yang juga turut difasilitasi oleh proyek ini adalah komunikasi dan pertukaran data bagi keperluan rumah tangga, korporat, pemerintahan, badan kepolisian serta keperluan telekomunikasi lain yang berbasis pada pemanfaatan pita lebar dalam kegiatan komunikasi yang dilakukan. Sistem komunikasi pertahanan negara pun turut didukung oleh proyek ini dimana beberapa kegiatan komunikasi ini di antaranya adalah komunikasi bidang administrasi bidang logistik (adminlog), komunikasi bidang komando dan pengendalian (kodal), komunikasi bidang intelejen, komunikasi bidang pengawasan dan komunikasi bidang pengintaian. Bibliography (2005, January 4). Retrieved May 2, 2010, from http://www.scribd.com Elion, G. (1982). Fiber Optic in Communication Systems. New York: McGraw-Hill Company. Freeman, R. L. (2005). Fundamentals of Communications, second edition. New Jersey: Hoboken. Inramus, G. W. (2006, January 4). About Us: Scribd Corporation. Retrieved May 2, 2010, from Scribd Corporation Web site: http://www.scribd.com Katz, J. (2007). World of Difference. New York: Free Press. Octaviano, F. (2010, January 21). About Us: Antaranews Corporation. Retrieved May 7, 2010, from A. Antaranews Corporation Web site: http://antaranews.com Pacey, A. (2000). Culture of Technology. Cambridge: The MIT Press. S. Jones, R. F. (2009). Introduction to Communication Technologies: A Guide for Non-Engineers. Boca Raton: FL: CRC Press. One person has commented on this article. No.1 rapi
artikelnya sudah cukup menarik...tapi,,biar tambah keren...mungkin bisa dirapikan hurufnya...   |