|
“ANALISIS PERBANDINGAN POLA MEMBACA THE NAKED TRAVELER 2 VERSI BUKU DAN DIGITAL” Context and Background The Naked Traveler 2 merupakan catatan perjalanan seorang backpacker wanita Indonesia keliling dunia. The Naked Traveler 2 merupakan kelanjutan dari The Naked Traveler 1 yang telah lebih dahulu dicetak dalam bentuk buku. The Naked Traveler 1 sendiri telah menjadi best seller di toko-toko buku yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah dicetak ulang sebanyak lebih dari 13 kali. Buku ini berawal dari kecintaan Trinity untuk menulis di blog pribadinya: www.naked-traveler.com. Pada awalnya, banyak yang mengira blog yang dimilikinya adalah situs porno sehingga tidak dapat diakses dari beberapa perusahaan dan negara. Padahal, maksudnya adalah cerita perjalanan yang benar-benar “naked”, gamblang dan apa adanya. Jadi, tidak seperti brosur perjalanan yang hanya menceritakan yang indah-indah saja. Lama-lama, tulisan-tulisannya disukai oleh banyak orang dan pada akhirnya diangkat menjadi sebuah buku. Kedua buku di atas bercerita tentang bagaimana Trinity (bukan nama sebenarnya) berjelajah ke hampir seluruh provinsi di Indonesia dan 42 negara di seluruh dunia dalam perjalanan yang minim anggaran. Buku The Naked Traveler 2 sendiri telah ditebitkan di tanggal 11 Januari 2010, bertepatan dengan hari ulang tahun penulisnya. Buku ini terbagi ke dalam 71 kisah perjalanan yang dimuat dalam 8 bab yang lebih besar. Yang menjadi ciri khas dari The Naked Traveler 1 dan 2 adalah berbagai kisah menarik dalam perjalanan Trinity yang disampaikan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan. Terkadang bisa lucu, sedih, menegangkan, bahkan menyebalkan. Semua hal itulah yang menjadi bumbu sedap sehingga membuat tulisan-tulisannya menjadi semakin menarik untuk dibaca. Buku ini juga menceritakan tentang bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang wajib dikunjungi jika sedang berkelana ke suatu negara, serta tips dan trik saat traveling ke sebuah negeri. Nongkrong sambil makan mangga dan minum bir di pinggir jalan kota Hanoi, mengikuti short track di Pulau Komodo, naik balon di “bulan”, merasakan kemewahan Dubai, sampai pengalaman “diajak ciuman” pria Filipina dan diajak menikah oleh pria kulit hitam merupakan sekelumit kisah dari puluhan cerita seru lain yang ditawarkan oleh The Naked Traveler 2. Pada akhirnya, setelah membaca buku ini, bisa jadi pembaca justru menjadi semakin mencintai dan mensyukuri kekayaan dan keindahan negeri sendiri. Kesemua kisah perjalanan itu sangat cocok untuk mewakili dua kata yang selalu menjadi prinsipnya saat beravontur ria: Happy Traveling! Bahkan, Tony Wheeler (pendiri Lonely Planet, penerbitan buku perjalanan terbesar di dunia), dalam endorsement-nya mengatakan: “Saya sudah pernah ke tempat-tempat itu sebelumnya, tapi The Naked Traveler 2 membawa saya ke sana melalui rute yang benar-benar baru.” Namun, yang menjadi perbedaan dalam The Naked Traveler 2 adalah buku ini telah dicetak lebih dahulu dalam bentuk digital di bulan Oktober 2009. Bentuk digital di sini bukan dalam bentuk e-book, seperti yang dapat dibaca melalui aplikasi dalam iPad atau Kindle, melainkan dalam bentuk SMS (Short Message Service) registrasi yang bekerja sama dengan penyedia jasa layanan telepon seluler XL. Jadi, hanya orang-orang yang juga menggunakan XL sebagai layanan telepon selulernya yang mampu untuk mengakses karya kedua dari Trinity ini. Para pengguna XL yang berminat dapat mengirim SMS Registrasi dengan mengetik REG TNT dan dikirim ke 3450. Lalu, setelah berlangganan, pengguna akan memperoleh cerita dari setiap bab yang dikirim melalui SMS. Tentunya, pelanggan juga akan dikenai biaya dengan potongan pulsa yang telah ditentukan untuk setiap bab cerita. Secara keseluruhan, konten yang dibaca dalam The Naked Traveler versi buku maupun digital adalah sama. Central and Sub-Question Sejak versi digital diluncurkan di bulan Oktober 2009 dan versi buku di bulan Januari 2010, buku The Naked Traveler 2 telah kembali menjadi hits dan best seller di berbagi kota di Indonesia. Dengan konten yang lebih padat dan cerita perjalanan yang jauh lebih lengkap, The Naked Traveler 2 telah berhasil kembali memanjakan para penggemarnya dan mendorong banyak orang untuk pergi untuk berkelana keliling dunia. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah: Apakah akan ada perbedaan dalam pola membaca jika kita membandingkan versi buku dan digital? Seperti yang kita ketahui, telepon seluler pada dasarnya dibuat sebagai alat untuk berkomunikasi. Dan, SMS adalah layanan berkirim pesan melalui telepon seluler. Sementara itu, satu bab cerita akan menempati layanan yang seharusnya untuk saling berkirim pesan singkat. Apakah hal ini tidak akan membuat perbedaan pola membaca? Selain itu, buku The Naked Traveler menyajikan berbagai cerita tentang kebudayaan, sejarah, asal-usul yang berkaitan dengan tempat yang dikunjungi Trinity dalam perjalanannya ke berbagai tempat. Di setiap bab, diperlihatkan banyak nama orang, nama tempat, nama makanan, tahun-tahun, kegiatan yang dilakukan, dan harga. Bagaimanakan perbedaan rincian dari orang-orang yang membaca versi digital dan versi buku? Apakah mereka mampu mengingat lebih banyak atau justru lebih sulit untuk mengingat setiap rincian? Lalu, buku The Naked Traveler 2 terkenal karena gaya bahasanya yang santai dan ringan. Orang-orang dapat tertawa terpingkal-pingkal ketika membaca buku ini. The Naked Traveler membuat orang untuk selalu membacanya berulang-berulang. Apakah dengan versi digital esensi “lucu” dari buku ini akan berkurang? Atau, apakah pesan yang disampaikan oleh penulis justru tidak sampai kepada para pembaca? Apakah versi digital akan mempunyai tingkat ketertarikan orang untuk membaca yang tinggi sebagaimana yang mampu dicapai oleh The Naked Traveler 1. Thesis Statement Versi digital The Naked Traveler 2 menunjukkan adanya perkembangan teknologi dalam dunia perbukuan. Handphone sebagai gadget yang hampir dimiliki setiap orang dimanfaatkan untuk memperoleh cerita dimanapun dan kapanpun. Pencetakan dalam bentuk digital akan mempengaruhi pola membaca, baik dalam hal detail maupun ketertarikan untuk membaca. Perkembangan ini membuat pengguna secara praktis dapat membaca dimanapun dan kapanpun. Theoritical Framework Media literacy (melek media) adalah seperangkat perspektif yang secara aktif kita gunakan untuk mengekspos diri kita ke suatu media untuk memahami makna dari pesan-pesan yang kita temui. Kita membangun perspektif dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan tersebut, kita membutuhkan alat-alat dan bahan baku. Alat-alat tersebut adalah kemampuan (skill) yang kita miliki. Bahan bakunya adalah informasi dari media dan dari dunia nyata. Penggunaan aktif berarti bahwa kita menyadari adanya pesan dan secara sadar berinteraksi dengan pesan tersebut. Media literacy merupakan suatu konsep yang multidimensional dengan banyak segi yang menarik untuk diperbincangkan. Oleh karena itu, kita harus melihatnya dari banyak aspek yang berbeda untuk menghargai apa yang ditawarkan. Ada beberapa konsep yang terkait untuk menganalisis pola membaca seseorang dalam kaitannya dengan media literacy yaitu: informasi (information) dan pengetahuan (knowledge), pengungkapan (exposure) dan perhatian (attention), keotomatisan (automaticity) dan mindfulness, serta pencocokan makna (meaning matching) dan konstruksi makna (meaning construction). Dalam kehidupan sehari-hari, istilah informasi (information) dan pengetahuan (knowledge) seringkali digunakan sebagai sebuah sinonim. Padahal, keduanya berbeda. Informasi adalah sesuatu yang sedikit demi sedikit atau satu demi satu (piecemeal) dan tidak kekal (transitory), sedangkan pengetahuan bersifat terstruktur, terorganisasi, dan lebih memuat signifikansi atau sarat makna. Informasi bertempat dalam pesan, sedangkan pengetahuan berada dalam pikiran seseorang. Informasi memberikan seseorang sesuatu untuk dipahami, sedangkan pengetahuan mencerminkan apa yang telah dipahami oleh seseorang. Informasi tersusun atas fakta-fakta. Pengetahuan mensyaratkan struktur untuk menyajikan konteks dan dengan demikian menunjukkan makna. Pesan dianggap sebagai sebuah bahan baku dan kemampuan dan kecakapan (skill) sebagai alat-alat yang kita gunakan untuk melakukan sesuatu terhadap bahan baku. “Sesuatu” yang kita lakukan dalam layanan untuk mencapai tujuan dari mengeluarkan informasi dari pesan dan mengubah informasi tersebut menjadi sebuah pengetahuan, yaitu untuk merekonstruksi informasi sehingga hal ini akan berkontribusi pada struktur pengetahuan kita. Karakteristik dari media literacy yang lebih tinggi adalah kemampuan dan perilaku dalam mentransformasi informasi ke struktur pengetahuan. Ada beberapa hal yang terkait dengan gagasan informasi: pesan, informasi faktual, dan informasi sosial. Pesan adalah instrumen yang membawa suatu informasi bagi kita. Informasi adalah konten dari pesan. Pesan dapat disampaikan melalui berbagai media yang berbeda. Pesan juga dapat berbentuk besar maupun kecil. Pesan tersusun dari dua jenis informasi: faktual dan sosial. Sebuah fakta adalah sesuatu yang masih mentah, belum terproses, dan bebas konteks. Informasi sosial tersusun dari keyakinan yang diterima yang tidak dapat diverifikasi oleh otoritas dalam cara yang sama seperti yang dapat dilakukan oleh informasi faktual. Hal ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa informasi sosial kurang bernilai atau kurang nyata bagi orang-orang. Informasi sosial tersusun dari teknik-teknik yang orang pelajari dari pengamatan terhadap interaksi sosial. Media massa menunjukkan tiga tipe umum dari pesan: berita, hiburan, dan iklan. Pada dasarnya, tujuan primer media massa untuk menghasilkan dan menyalurkan semua pesan adalah untuk mengkonstruksi khalayak sehingga menghasilkan pendapatan. Tiga tipe pesan ini berbeda dalam tujuan sekundernya pada media massa. Dengan pesan-pesan yang baru, kehendak dari media massa adalah untuk membangkitkan anggota khalayak sebuah perasaan bahwa mereka terinformasikan. Dengan pesan hiburan, tujuan media massa adalah untuk membangkitkan perasaan anggota khalayak bahwa memperoleh pengalaman emosional yang nyaman. Dengan pesan iklan, kehendak media adalah untuk merangsang perusahaan agar membayar iklan yang disampaikan atas sebuah perasaan bahwa pesan iklan tersebut berhasil mengubah target khalayak dalam hal kognisi, sikap, dan perilaku. Seiring berjalannya waktu, media massa telah mencampur dua atau lebih keinginan sekundernya untuk mencapai tujuan primer yang lebih baik. Hal ini telah semakin menyulitkan anggota khalayak untuk memahami sifat dari suatu pesan. Pengungkapan (exposure) merujuk pada kedekatan fisik pada sebuah pesan media, sehingga seseorang memiliki suatu kontak dengan pesan tersebut. Perhatian (attention) adalah kesadaran terhadap sebuah pesan. Jadi, perhatian tercakup dalam gagasan tentang pengungkapan. Seseorang tidak dapat memperoleh dan memahami sebuah pesan tanpa pengeksposannya terhadap pesan tersebut. Akan tetapi, exposure bersifat lebih luas daripada perhatian karena orang-orang dapat terekspos pada sebuah pesan tanpa harus memperoleh atau memahaminya. Keotomatisan (automaticity) merujuk kepada aktivitas kognitif yang terjadi di luar kesadaran atau tidak terpikirkan (mindlessness) (Fiske dan Taylor, 1991: 283). Kejadian dimluar pikiran adalah sebuah keadaan di mana seseorang tidak secara khusus menyiapkan diri, berpikir, atau kreatif. Walaupun orang tersebut sadar, orang tersebut tidak aktif dalam berpikir melalui keputusan-keputusan. Sebaliknya, pikiran seseorang seperti pilot otomatis yang menjalankan kebiasaan rutin dengan usaha mental yang sangat kecil. secara tipikal, proses otomatis terjadi tanpa disengaja, tanpa melibatkan kesadaran, dan tanpa dicampuri dengan aktivitas mental lain. Keotomatisan adalah lawan dari hal yang terpikirkan (mindfulness). Dalam keadaan otomatis, kita beroperasi seperti pilot, yaitu pikiran kita secara otomatis mengikuti kebiasaan yang telah terprogram. Sebaliknya, mindfulness adalah sebuah keadaan dimana kita sadar akan apa yang sedang kita lakukan. Kita memonitor pilihan-pilihan kita, dan kita memikirkan terlebih dahulu setiap keputusan yang dibuat. Ada juga waktu-waktu tertentu ketika kita sedang berkonsentrasi pada suatu hal lalu secara otomatis menyaring semua rangsangan lain di sekitar kita. Ketika hal ini terjadi, hal ini seringkali menjadi latar belakang pesan media yang sedang disaring. Dalam pencocokan makna (meaning matching), makna diasumsikan berada di luar otoritas seseorang. Tugas bagi orang tersebut adalah mencari makna-makna tersebut dan mengingatnya. Pencocokan makna pada dasarnya adalah sebuah hal yang dapat dicapai dengan baik secara otomatis ketika kita telah memperoleh beberapa kompetensi dasar. Konstruksi makna, sebaliknya, adalah sebuah hal yang jauh lebih menantang. Konstruksi makna adalah sebuah proses di mana kita harus melakukan hal-hal tertentu terhadap pesan yang kita saring dan menciptakan makna bagi diri kita sendiri. Hal-hal yang kita lakukan terhadap pesan tersebut mensyaratkan kemampuan analisis dan evaluasi untuk memeriksa pesan tersebut secara sadar. Kemudian, ketika informasi itu diperiksa, kita harus menggunakan kemampuan lain untuk memasukkan informasi baru dengan struktur pengetahuan yang sudah ada untuk mengkonstruksikan makna kita. Banyak makna yang dapat dikonstruksikan dari pesan media tertentu. Selain itu, ada banyak cara untuk dilakukan berkaitan dengan konstruksi makna. Dengan demikian, kita tidak dapat mempelajari seperangkat aturan yang lengkap untuk menyelesaikan hal ini. Sebagai gantinya, kita perlu untuk dituntun oleh tujuan informasi kita, dan kita perlu untuk menggunakan kemampuan yang dibangun dengan baik untuk mengkonstruksi secara kreatif sebuah pijakan untuk mencapai tujuan kita. Proses pencocokan makna dan konstruksi makna tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terjalin satu sama lain. Untuk mengkonstruksikan makna, pertama-tama, kita harus untuk mengenali simbol-simbol dan memahami arti dalam simbol-simbol yang digunakan dalam pesan. Jadi, proses pencocokan pesan bersifat lebih fundamental karena produk dari proses pencocokan makna kemudian akan digunakan dalam proses konstruksi makna. Methodological Framework Penelitian ini menggunakan 30 responden untuk mengetahui perbedaan pola membaca antara versi buku dan digital. Semua responden adalah remaja dan pemuda yang berusia dari 17-21 tahun. Responden dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berisikan lima belas orang yang diminta untuk membaca sebuah cerita yang berjudul “Situ Mau Kita Semua Mati?” langsung dari buku The Naked Traveler 2. Kelompok kedua diminta untuk membaca cerita yang sama melalui telepon seluler. Telepon seluler yang saya gunakan di sini adalah merek Nokia, tipe E63. Kemudian, saya mengukur kecepatan membaca mereka. Setelah selesai membaca, saya meminta mereka untuk mengisi suatu form yang berisi beberapa pertanyaan sebagai berikut: 1. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan cerita “Situ Mau Kita Semua Mati?” adalah ... menit ... detik. 2. Menurut Anda, seberapa lucukah cerita “Situ Mau Kita Semua Mati?”. Berikan penilaian dari 1 sampai 5. 3. Jawablah kelima pertanyaan di bawah ini: a. Sebutkan tiga hal yang membuat Trinity stres saat bepergian naik pesawat. b. Ada berapa orang yang berada di belakang petugas check in yang menurut Trinity “kerjanya cuma ngeliatin doang”? c. Dari mana sang bapak yang menggoda Trinity mengetahui namanya? d. Berdasarkan cerita tersebut, pramugari pesawat mana yang berani untuk menghardik penumpang yang masih menyalakan telepon seluler? e. Kata apa yang digunakan Trinity untuk menunjukkan bahwa ia sudah sangat keras untuk memperingatkan dan menegur orang lain? 4. Apakah Anda ingin membacanya cerita “Situ Mau Kita Semua Mati”? Ya atau Tidak. Pertanyaan pertama digunakan untuk mengetahui perbedaan kecepatan membaca di buku maupun telepon seluler. Kecepatan membaca akan menunjukkan bagaimana cara membaca yang digunakan dalam masing-masing media. Apakah itu membaca kata per kata, membaca zig-zag, membaca sambil lalu, atau ola membaca lainnya. Pertanyaan kedua digunakan untuk mengetahui tingkat kelucuan dari cerita tersebut. Tulisan Trinity terkenal karena gaya bahasanya yang santai, informal, kocak, dan sering mengundang gelak tawa. Dari pertanyaan di atas akan diketahui apakah terjadi perbedaan kelucuan cerita jika menggunakan media yang berbeda. Pertanyaan ketiga digunakan untuk mengetahui seberapa rinci para responden membaca dengan menggunakan dua media yang berbeda. Semua jawaban ditunjukkan secara eksplisit dalam bacaan sehingga dengan jelas dapat terlihat media manakah yang memberikan suatu pola membaca yang lebih terperinci. Pertanyaan keempat masih ada kaitannya dengan pertanyaan kedua. Pertanyaan ini berhubungan dengan minat. Pertanyaan ini digunakan untuk memeriksa apakah pesan yang ingin disampaikan oleh pembaca membuat pembaca terhibur dan terinformasi atau tidak. Analysis Sebelum masuk ke dalam analisis lebih lanjut, berikut saya sajikan jawaban dari lima pertanyaan yang terdapat pada nomor 3: a. Counter check in, kursi pesawat, dan telepon seluler. Ketiga jawaban tersebut merupakan kata-kata pertama dari paragraf kedua, lima, dan tujuh. Untuk menunjukkan poin-poin tersebut, penulis menggunakan tanda strip (-) untuk melanjutkan ke kalimat berikut dan memulai cerita. b. Ada empat orang. Jawaban ini ada di kalimat terakhir paragraf kedua: “...Belum lagi petugas check in kita luama banget, padahal ada 4 orang di belakangnya yang kerjanya cuman ngeliatin doang...” c. Bag tag. Jawaban ini terdapat di kalimat kedelapan paragraf ketiga: “...Rupanya dia membaca nama saya yang menempel di bag tag....” d. Pesawat Garuda. Jawaban ini terdapat di kalimat kelima paragraf ketujuh: “...Kalau naik Garuda, pramugarinya berani menghardik penumpang yang masih menyalakan hape...” e. Situ. Jawaban ini terdapat di kalimat ketiga terakhir paragraf kedelapan: “...FYI, kalau saya sudah pake kata ’situ’ berarti udah keras banget...” Dari hasil penelitian terhadap 15 responden yang membaca versi buku dari cerita di atas, 9 orang memberikan angka 5 (sangat lucu), 3 orang memberikan angka 3 (lucu), dan 3 orang memberikan angka 2 (cukup lucu) sehingga hasil ini memberikan nilai rata-rata yaitu 4,4 (mendekati sangat lucu). Sementara itu, dari hasil penelitian terhadap 15 responden yang membaca versi digital dari cerita tersebut, 6 orang memberikan angka 5 (sangat lucu), 5 orang memberikan angka 4 (lucu), dan 4 orang memberikan angka 3 (lucu) sehingga memberikan nilai rata-rata 4,13 (mendekati lucu). Walaupun hanya terdapat sedikit perbedaan, hal ini menunjukkan bahwa versi digital tidak dianggap semenarik versi buku. Di dalam buku, disediakan ilustrasi gambar yang menunjang cerita serta kehadiran foto nyata yang tentunya lebih mampu menjelaskan bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi dalam konteks cerita tersebut. Selain itu, versi digital tidak disertai dengan catatan-catatan yang penting. Di dalam buku, jika ada kalimat yang dianggap menarik, maka kalimat tersebut akan ditampilkan tidak hanya di dalam paragraf, tetapi juga dalam ruang kosong yang berada di luar paragraf. Dalam versi digital juga tidak ada perbedaan ukuran huruf dalam pengantar maupun isi. Dalam buku, pengantar cerita memiliki spasi yang lebih besar dan ukuran huruf yang juga lebih besar. Lalu, walaupun cerita itu, disediakan oleh penyedia layanan jasa telepon seluler, cerita yang masuk akan mengikuti format selayaknya SMS biasa, sesuai dengan format yang default pada tipe telepon seluler masing-masing. Hal ini juga membuat cerita menjadi kurang terlalu menarik untuk dibaca. Lalu, waktu rata-rata yang dibutuhan untuk membaca cerita dalam versi buku adalah 4 menit, 40 detik, sedangkan versi digital memerlukan waktu rata-rata lebih panjang yaitu 5 menit, 2 detik. Hal ini dipengaruhi oleh luasnya bidang bacaan pada versi buku. Buku The Naked Traveler 2 memiliki luas 20,5 x 13 cm sedangkan layar E63 hanya seluas 4,8 x 3,6 cm. Hal ini memungkinkan luasnya jangkauan mata untuk membaca cepat. Dengan demikian, pembaca dapat langsung melompat ke bagian-bagian yang dianggap penting ataupun langsung membalik halaman. Hal ini berbeda dengan versi digital. Pembaca harus menggunakan scroll pad untuk memindahkan ke halaman selanjutnya yang tentu saja menambah waktu. Dalam pertanyaan ketiga, ternyata pembaca versi digital jauh lebih detil daripada pembaca versi buku. Dari lima pertanyaan dengan delapan poin jawaban, 6 orang menjawab 5 pertanyaan, 4 orang menjawab 6 pertanyaan, 2 orang menjawab 7 pertanyaan, dan 3 orang menjawab 8 pertanyaan sehingga jika dirata-ratakan setiap orang mampu menjawab 6,13 pertanyaan. Sementara itu, dari 15 responden yang membaca versi buku, 2 orang mampu menjawab 3 pertanyaan, 5 orang menjawab 4 pertanyaan, 3 orang menjawab 5 pertanyaan, 3 orang menjawab 6 pertanyaan, dan 2 orang menjawab 8 pertanyaan sehingga jika dirata-ratakan menghasilkan nilai 4,86. Masalah luas layar yang dibahas di atas ternyata berkaitan dengan detil dan rincian membaca. Dengan layar yang lebih kecil, hal ini menyebabkan pengguna lebih fokus terhadap semua kata dan konten yang terdapat dalam cerita. Dengan demikian, pembaca lebih memahami secra komprehensif pesan, makna, dan isi cerita. Mengapa pembaca versi digital bisa lebih detil daripada pembaca versi buku. Hal ini karena mereka menaruh perhatian (attention) mereka pada sebuah layar kecil yang hanya memuat isi dan kata-kata cerita. Saat membaca SMS melalui fitur Kotak Masuk di telepon seluler merek Nokia tipe E63, pembaca hanya dapat membaca siapa pengirim pesan, apa isi pesannya, serta tombol pilihan (options) dan kembali (back). Hal ini juga dipengaruhi oleh kecilnya layar sehingga tingkat perhatian pembaca menjadi tinggi. Hal yang berbeda terjadi pada saat seseorang membaca versi buku. Halaman per halaman adalah pusat perhatian mereka. Tetapi merek a juga dikelilingi oleh exposure. Tingkat perhatian (attention) mereka menjadi terpecah. Kertas yang cukup besar membuat mereka sulit untuk berfokus pada setiap kata dan kalimat. Mereka akan cenderung mencari kata-kata yang terlihat mencolok (exposure) seperti digarisbawahi, ditebalkan, atau dijadikan huruf miring sehingga mereka menganggap kata atau kalimat lain menjadi tidak penting. Kemudian, dalam hal minat untuk membaca kembali, dari 15 responden yang membaca versi digital dan 15 orang lain yang membaca versi buku, keduanya menunjukkan hasil yang sama: 13 orang berminat untuk membaca lagi dan 2 orang menolak untuk membaca kembali. Conclusion Dari seluruh hasil penelitian dan analisis di atas, hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pola membaca antara buku The Naked Traveler 2 versi buku maupun versi digital yang dibaca melalui SMS di telepon seluler. Hasil itu menunjukkan bahwa “grafik kelucuan” The Naked Traveler 2 versi digital versi buku maupun digital hampir sama. Kedua, dalam hal waktu, pembaca The Naked Traveler 2 versi buku membutuhkan waktu yang lebih singkat daripada versi digital. Terakhir, pembaca The Naked Traveler versi digital menunjukkan kerincian yang lebih tinggi daripada pembaca buku. References Potter, W. James. (2005). Media Literacy Third Edition, California: Sage Publications. Trinity. (2010). The Naked Traveler, Yogyakarta: Bentang Pustaka. Trinity. (2010). The Naked Traveler 2, Yogyakarta: Bentang Pustaka.
No one has commented on this article. |